Oleh: Agustin Eka Ariestari, S.Pd., Gr., M.Pd./Guru IPS SMP Negeri 3 Sekotong
Mataram – Guru IPS SMP Negeri 3 Sekotong, Agustin Eka Ariestari, S.Pd., Gr., M.Pd., mengikuti Pelatihan Dasar Manajemen Bencana dalam Program Sekolah Rakyat Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana (Pusdiklat PB) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pelatihan berlangsung secara klasikal selama lima hari, 19 sampai 23 Oktober 2026, di Wisma Tambora Lantai 2, BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram.
Pelatihan ini diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai unsur di Nusa Tenggara Barat, mulai dari guru dan pengurus sekolah, perangkat daerah yang menangani kebencanaan, pendidikan, dan sosial, hingga Tagana, Kwartir Pramuka, dan akademisi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kapasitas, dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana di lingkungan pendidikan.
Materi Pelatihan
Dengan total 36 jam pelajaran, peserta mendapat materi yang berurutan dari dasar hingga praktik. Pada hari pertama peserta mempelajari prinsip penanggulangan bencana, dilanjutkan sistem penanggulangan bencana. Hari berikutnya peserta mendalami konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), manajemen risiko, serta mitigasi dan kesiapsiagaan bagi sekolah.
Materi kemudian berlanjut ke rencana kedaruratan dan manajemen darurat sekolah, logistik dan peralatan kebencanaan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pada hari keempat, peserta mempelajari data dan informasi bencana, kesehatan dan keselamatan kerja, lalu mempraktikkan simulasi bencana yang ditutup dengan kajian setelah kegiatan (After Action Review). Pelatihan ditutup pada hari kelima dengan penyusunan rencana tindak lanjut dan tes akhir.
Bekal untuk Pembelajaran IPS
Sebagai guru IPS yang mengajar kelas VII sampai IX di SMPN 3 Sekotong, Bu Agustin memandang materi ini sangat dekat dengan pembelajaran IPS, terutama pada kajian lingkungan, keruangan, dan kehidupan masyarakat. Sekotong dan Kabupaten Lombok Barat berada di wilayah yang rawan gempa bumi dan tsunami, sehingga pemahaman kebencanaan menjadi bekal penting bagi guru maupun murid.
"Pelatihan ini memberi gambaran utuh tentang bagaimana sekolah bersiap menghadapi bencana. Kami ingin ilmu ini sampai ke kelas dan ke sesama guru," ujarnya.
Rencana Tindak Lanjut
Setelah pelatihan, Bu Agustin berencana membawa materi kesiapsiagaan bencana ke SMPN 3 Sekotong dan membagikannya kepada rekan guru IPS lain di Kabupaten Lombok Barat melalui MGMP IPS yang ia ketuai. Dengan begitu, manfaat pelatihan tidak berhenti pada peserta, tetapi dapat dirasakan lebih luas oleh guru dan murid di berbagai sekolah.