GEMA WAHYU DI BALIK BUKIT BUWUN MAS SEKOTONG

Di bawah ufuk timur perbukitan Sekotong, matahari baru saja mengintip malu-malu ketika gerbang SMPN 3 Sekotong mulai ramai. Namun, suasana Ramadhan kali ini terasa berbeda. Tidak ada riuh rendah teriakan siswa yang berlarian; yang ada hanyalah derap langkah tenang menuju mushola dan selasar kelas yang sudah terbentang rapi dengan sajadah.

Berikut adalah gambaran hangat dari program Mengaji Pagi yang menjadi napas spiritual di sekolah tersebut selama bulan suci Ramadhan 1447 H.


Gema Wahyu di Balik Bukit

Setiap pukul 07.30 WITA, lonceng sekolah berbunyi bukan sebagai tanda dimulainya rumus matematika atau hafalan sejarah, melainkan sebagai undangan untuk bersimpuh. Seluruh siswa, guru, dan staf berkumpul dengan mushaf di tangan.

Momen-momen inti dalam kegiatan ini meliputi:

  • Tadarrus Bersama: Suara merdu perwakilan siswa memandu pembacaan ayat suci melalui pengeras suara, sementara ratusan siswa lainnya menyimak dan mengikuti dengan khusyuk. Suasana yang biasanya penuh energi remaja berubah menjadi syahdu.

  • Kultum Singkat: Setelah mengaji, para guru agama atau perwakilan OSIS memberikan siraman rohani singkat. Temanya sederhana namun mengena: tentang kejujuran, bakti kepada orang tua, hingga indahnya berbagi di bulan puasa.

  • Setoran Hafalan: Bagi beberapa kelas, waktu ini juga dimanfaatkan untuk menyetor hafalan surat-surat pendek (Juz Amma) kepada wali kelas masing-masing.


Mengubah Lelah Menjadi Lillah

Bagi para siswa di SMPN 3 Sekotong, menahan lapar dan haus di tengah cuaca Sekotong yang cenderung panas bukanlah hal mudah. Namun, program mengaji pagi ini menjadi "baterai" penyemangat.

"Kalau cuma diam di kelas nunggu jam pelajaran, rasanya lemas. Tapi kalau mengaji bareng-bareng begini, hati jadi tenang dan tahu-tahu waktu zuhur sudah dekat," ujar salah satu siswa dengan senyum tulus.

Program ini bukan sekadar rutinitas, melainkan cara sekolah membentuk karakter. Di sini, kecerdasan intelektual diseimbangkan dengan ketenangan batin.


Dampak yang Terasa

  1. Kedisiplinan: Siswa menjadi lebih tepat waktu agar tidak tertinggal sesi pembukaan.

  2. Keakraban: Ikatan antara guru dan murid terasa lebih kekeluargaan karena duduk bersila di level yang sama.

  3. Lingkungan Positif: Mengurangi kebisingan yang tidak perlu dan menggantinya dengan lantunan ayat suci.

Saat matahari mulai naik dan kegiatan mengaji ditutup dengan doa bersama, para siswa kembali ke kelas dengan wajah yang lebih segar. Mereka siap menerima ilmu umum, setelah sebelumnya "memberi makan" jiwa mereka dengan ilmu agama.